Bedakan Konspirasi Sains dan Konspirasi Bisnis Terkait Wabah dan Vaksin

575

Bedakan antara konspirasi sains dan konspirasi bisnis terkait wabah dan vaksin. Dua hal ini berbeda, tetapi penganut teori konspirasi mencampur-aduknya dan memukul rata bahwa semua yang terkait wabah dan vaksin itu konspirasi semuanya.

Konspirasi sains yang dituduhkan oleh sebagian orang itu tentu TIDAK benar. Beberapa contoh:

1. Wabah Covid-19 ini buatan.

2. Vaksin itu tidak bermanfaat bahkan berbahaya.

3. Wabah Covid-19 ini tidak berbahaya, jadi tidak perlu social distancing dan physical distancing.

4. Wabah Covid-19 tidak berbahaya, orang kesehatan hanya menakut-nakuti saja.

5. Tenaga medis hanya korban saja, semua ini setingan dan bohongan. Covid-19 benar ada, tapi sebenarnya ringan sepeti flu biasa dan mudah menular.

6. Wabah Covid-19 ini dibawa oleh jin, konspirasi elit global dan terkait dengan kemunculan dajjal. Masjid sengaja dikosongkan, apabila masjid kosong semua nanti dajjal akan muncul.

Semua tuduhan di atas TIDAK BENAR.

Dampak dari tuduhan konsiprasi ini adalah:

1. Masyarakat jadi meremehkan anjuran social distancing dan physical distancing yang dapat mengurangi atau memutus rantai penularan Covid-19.

2. Tidak sedikit yang meremehkan tenaga medis, bahkan memberikan tuduhan bahwa tenaga medis ikut berperan dalam konspirasi ini.

3. Konspirasi membawa-bawa nama Islam, dengan beberapa fakta yang tidak benar, akan menjadi bumerang bagi agama Islam.

Wabah yang disebabkan oleh virus, “hukum asalnya” terjadi secara alami (natural) karena mutasi genetik, rekombinasi, atau proses genetik yang lainnya. Vaksin itu bermanfaat dan sudah terbukti secara mendunia. Wabah Covid-19 jelas berbahaya dan memakan cukup banyak korban di RS dan kita sangat perlu menerapkan social distancing dan physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ini semua terbukti dengan sains dan fakta di lapangan di rumah sakit dan pasien yang kami lihat langsung.

Kalau konspirasi bisnis yang MEMANFAATKAN wabah pandemik ini BISA JADI ADA. Konspirasi bisnis ini ada di semua bagian dan sendi kehidupan. Misalnya konspirasi bisnis beras, konspirasi rokok, konspirasi bisnis usaha ini dan itu yang memang dimanfaatkan oleh oknum tertentu.

Tuduhan konspirasi terkait wabah Covid-19 kembali muncul oleh orang-orang tertentu. Mereka mendapatkan angin segar dengan adanya wawancara terbaru dengan mantan Menkes Siti Fadilah (saya tetap menghormati keilmuan beliau sebagai akademisi, karena beliau memiliki banyak jasa dalam ilmu pendidikan kedokteran). Tetapi perlu diketahui bahwa mantan Menkes Siti Fadilah lebih menekankan kepada “dugaan konspirasi bisnis” yang MEMANFAATKAN pandemi wabah. BUKAN konspirasi bahaya vaksin dan konspirasi elit global sampai membawa-bawa nama Dajjal.

Mari kita kembali melihat sejarah lama dahulu agar tidak terulang kembali. Ketika beliau menulis buku berjudul, “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung”, buku tersebut dijadikan alasan menolak vaksin dan ada yang menjadikan bukti sebagai konspirasi. Ternyata beliau malah mendukung vaksinasi dan tujuan buku bukan untuk itu (menolak vaksinasi)

Menanggapi hal itu, beliau mengatakan:

Semua anak di Indonesia HARUS diimunisasi. “Ada imunisasi yang wajib, yakni BCG, DPT, campak dan polio. Itu adalah imunisasi wajib yang sebetulnya semua harus diimunisasi dan capaiannya kalau bisa 100 persen anak Indonesia,” kata dia di Purwokerto, Jawa Tengah, Rabu.

Bahkan beliau heran sekali:

“Buku saya tidak membicarakan soal imunisasi. Tetapi MENGAPA sampai berdasarkan buku saya, mereka tidak imunisasi,” katanya.

[sumber: https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/12/07/lvtlhq-wahbukunya-jadi-alasan-tolak-imunisasi-ini-jawaban-siti-fadilah-supari ]

Kami membuat tulisan tentang ini tahun 2015, di situs kami: https://muslimafiyah.com/mantan-menkes-siti-fadilah-menolak-vaksin-dan-bilang-ada-konspirasi-konspirasi-lagi-kah.html

Buku beliau digunakan sebagai “hujjah” oleh oknum anti-vaksin untuk menyebarkan bahaya dan konspriasi vaksin, mulai dari vaksin bahaya, vaksin tidak dianjurkan, vaksin membuat autis, dan vaksin itu program Dajjal. Ketika tulisan ini kami sebarkan dan kami berikan kepada mereka, mereka tetap tidak terima dan tetap mengkampanyekan anti-vaksin secara total, padahal penulis bukunya sudah menganjurkan program vaksin untuk anak Indonesia.

Dalam buku ini, beliau hanya ingin virus flu burung H5N1 diteliti di Indonesia sehingga Indonesia mandiri. Tetapi pendapat beliau ini tidak sepenuhnya bisa dibenarkan. Kami nukilkan pendapat sahabat kami seorang ahli virus, yaitu dr. M. Saifudin Hakim, M.Sc, Ph.D:

“Sebagian orang berdalih dengan buku “Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan Dibalik Virus Flu Burung” karya Dr. Siti Fadhilah Supari, SpJP(K) sebagai dalih menolak vaksinasi.

Saya yakin, orang2 tersebut tidak pernah membaca buku tersebut sampai tuntas. Tahun 2009-2010, saya mendapatkan buku tsb melalui perpustakaan kantor dan saya baca sampai akhir. Tidak ada satu pun ajakan menolak vaksinasi dalam buku tsb.

Yg beliau soroti hanyalah, beliau ingin agar2 virus isolat Indonesia, dalam hal ini virus flu burung H5N1, bisa diteliti di Indonesia, tidak perlu sampai dibawa ke luar negeri. Beliau ingin kita mandiri dalam hal riset virus. Beliau menyoroti, mengapa setiap kali terjadi wabah, virus penyebab wabah itu dikirim ke luar negeri? Seolah-olah Indonesia tidak mendapatkan apa2.

Di sinilah yg saya kurang setuju. Ada beberapa alasan:

Pertama, wabah itu kerja bersama antar-negara2 di dunia. Virus dari Indonesia, bisa menyebar ke luar negeri. Sehingga harus bisa diantisipasi oleh negara lain. Jika Indonesia menjadi negara tertutup, lalu bgmn negara lain bisa mengetahui situasi di Indonesia? Virus apa yg muncul di Indonesia, bagaimana karakter virus tsb? Potensi perluasan wabah (pandemik), dst.

Ke dua, kapasitas lab virus di Indonesia harus kita akui masih kalah dibandingkan negara lain. Virus H5N1 masuk level BSL3 karena sangat berbahaya mengancam jiwa (saya belum tau ada berapa lab BSL3 di Indoensia). Demikian jg sequencing kita masih terbatas, dan seterusnya.

Ke tiga, harus dibedakan antara kepentingan sains dan komersial. Untuk kepentingan sains, para ilmuwan itu biasa saling bertukar virus yg dimiliki. Karena mmg tidak mungkin kita sendiri meneliti semua aspek virus tsb.

Selama saya di sini, beberapa kali kita minta virus dari Amerika, Jepang, dsb, itu dikasih gratissssss. Mengapa? Karena sains itu for humanity. Kita meneliti untuk kemaslahatan umat manusia, bukan melulu tujuan komersial.” [Selesai nukilan, sumber: postingan FB M. Saifuddin Hakim]

Wajar pendapat beliau tidak sesuai karena beliau adalah ahli di bidang jantung dan pembuluh darah. Sedangkan pendapat terkait wabah dan vaksin, kita lebih menerima pendapat ahli virus dan ahli vaksin.

Sebenarnya kita juga sangat ingin vaksin H5N1 diproduksi di Indonesia. Akan tetapi, apabila sarana dan prasarana tidak mendukung tentu tidak bisa, apalagi yang namanya wabah perlu segera ditemukan vaksinnya. Demikian juga dengan vaksin Covid-19 ini, kita sangat berharap bisa diteliti di Indonesia tentu dengan dukungan program, sarana dan prasarana dari pemerintah. Perlu diketahui bahwa program vaksin indonesia yang sekarang berjalan ini, vaksinnya diproduksi di dalam negeri oleh PT. BIOFARMA di Bandung, bahkan vaksinnya diekspor ke luar negeri mulai dari negara Asia sampai Arab Timur-Tengah (produksi dan meneliti ini berbeda). Jadi jangan sampai mengatakan program vaksin anak Indonesia itu konspirasi bisnis ya, karena BIOFARMA itu BUMN milik negara yang keuntungannya kembali untuk negara.

Kembali kepada Covid-19 ini, seakan sejarah kembali berulang. Ibu Siti Fadilah diwawancara dalam sebuah acara podcast di youtube baru-baru ini dan hasil wawancara beliau kembali “dimanfaatkan” oleh berbagai oknum untuk mendukung menyebarkan tuduhan konspirasi sains terkait wabah dan vaksin. Misalnya, wabah Covid-19 hanya settingan saja, seperti flu biasa dan tidak berbahaya dan lain-lainnya sebagaimana yang kami sampaikan di atas. Kami sempat mendengarkan wawancara terebut, dan yang kami tangkap adalah:

1. Beliau menekankan KONSPIRASI BISNIS dengan memanfaatkan pandemi wabah.

2. Ketika ditanya apakah wabah covid19 ini adalah buatan (rekayasa), beliau memberi jawaban mengambang yaitu “bisa jadi” dan tidak “mengiyakan”

Kami respon setiap poinnya:

1. Terkait dengan vaksin Covid-19 yang akan jadi wabah dan sudah diperkirakan oleh Bill Gate.

Jawabnya: sampai sekrang vaksinnya belum ditemukan, padahal seluruh dunia sangat butuh. Apabila memang wabah Covid-19 direkayasa lalu dijual vaksinnya, tentu sekarang saat yang tepat mengeluarkan vaksinnya dan dijual mahal. Tapi sampai sekarang belum ada vaksin yang bisa dipakai seluruh dunia (hanya klaim-klaim sepihak dan misinformasi dari portal berita). Mengenai prediksi Bill Gate, bukan hanya dia yang memprediksi, tetapi para ilmuan sebelumnya sudah memprediksi hal ini beradasarkan ilmu dan fakta sains.

2. Selanjutnya, apakah wabah Covid-19 ini virus buatan?

Dalam ilmu epidemiologi, wabah itu umumnya terjadi secara alami akibat mutasi genetik atau mekanisme molekuler yang lainnya. Jadi “hukum asalnya”, wabah itu adalah alami. Apabila ingin mengatakan buatan, dia harus membuktikannya dengan bukti ilmiah berupa jurnal ilmiah resmi yang diakui oleh ilmuan.

Wabah Covid-19 ini bukan buatan (rekayasa). Kami nukilkan tulisan seorang peneliti lengkap dengan jurnal ilmiahnya, yaitu Mila Anasanti:

“Jurnal penelitian tentang genom virus SARS2 secara kuat mengakhiri isu virus ini hasil rekayasa lab:

https://www.nature.com/articles/s41591-020-0820-9

Alasan terkuatnya adanya mutasi pada 2 bagian:

1. Domain pengikat reseptor dari spike protein virus corona SARS2 berevolusi untuk menargetkan ACE2  begitu efektif sehingga hanya bisa terjadi dari hasil seleksi mutasi di alam dan bukan rekayasa genetika.

Spike protein (ibarat kunci) pada SARS2 bahkan 10x lebih kuat mengikat ACE2 sehingga jauh lebih efektif menginvasi sel dibandingkan virus SARS-2003.

https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(20)30129-8/fulltext

Makanya transmisi penularan dari orang ke orang jauh lebih cepat dari SARS-2003.

http://virological.org/t/the-proximal-origin-of-sars-cov-2/398

Ibaratnya kalau virus SARS-2003 adalah maling yang buka gembok ACE2 butuh 10 jam, SARS2 butuh 1 jam saja.

2. Backbone (bagian struktur inti genom) SARS2 sangat berbeda dari coronavirus lainnya (punya kemiripan kurang dari 86% dibanding SARS 2003):

https://www.thelancet.com/journals/laninf/article/PIIS1473-3099(20)30129-8/fulltext

Malah paling mirip dengan virus kelelawar dan trenggiling (tingkat kemiripan genomnya 96%).

Karakter virus RNA sebagaimana virus corona mudah bermutasi di alam, berevolusi terus menerus untuk beradaptasi terhadap sel inangnya agar mampu berpindah menginfeksi organisme berbeda (misal dari hewan ke manusia).

Virus juga bisa ‘mutasi’ secara rekayasa di lab. Tapi jika ilmuwan yang merekayasa, sangat sulit untuk merekayasa genom (rantai RNA) dari virus corona kelelawar agar punya kemampuan mengikat ACE2, karena selama ini virus corona dari kelelawar gak pernah ditemukan bisa menginfeksi manusia dan gak bisa mentarget receptor ACE2.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3372174/

Ibarat anda perlu memodifikasi kunci untuk membuka gembok rumah, tapi anda punyanya kunci sepeda, jelas backbone ‘kunci’nya jauh berbeda.” [Selesai nukilan, sumber: Postingan FB Mila Anasanti]

Bagi kita yang beragama Islam, sejarah wabah yang terjadi pertama kali di muka bumi adalah sebagai hukuman dan azab bagi Bani Israil yang membangkang. Wabah terjadi selanjutnya terus-menerus ke berbagai generasi setelahnya, sampai di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Tentu ini terjadi secara alami sebagaimana proses kejadian alam, dengan izin dan kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

Sebagai tambahan sedikit menjawab tentang tuduhan konspirasi bahwa “Tenaga medis hanya korban saja, semua ini settingan dan bohongan, covid benar ada tapi sebenarnya ringan sepeti flu biasa dan mudah menular”.

Jawabnya: wabah covid19 ini bahaya, sudah banyak korban yang berjatuhan dan meninggal, silahkan main-main ke Rumah sakit atau terjun langsung ke lapangan. Memang manifestasi klinik orang yang terinfeksi Covid-19 ini berbeda-beda tergantung imunitas dan komorbid. Ada yang gejalanya tidak terlalu nampak dan hanya ringan saja, tetapi korban sudah banyak di seluruh dunia. Ini membuktikan wabah Covid-19 ini memang berbahaya dan tidak bisa dianggap remeh.

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK (Petugas lab Covid19)

Tulisan ini telah direview oleh: dr. M Saifudin Hakim, M.Sc., Ph.D. (Doktor ahli virus lulusan Erasmus University Medical Center Rotterdam)

Sumber : MuslimAfiyah.com

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here