Bolehkah Seorang Musafir Menjadi Imam dan Khatib?

660

Bolehkah Seorang Musafir Menjadi Imam dan Khatib?

Para ulama bersepakat bahwa musafir (orang yang bepergian jauh) tidaklah wajib mengikuti shalat Jumat. Mereka juga bersepakat bahwa yang lebih afdhal (utama) bagi musafir adalah mengikuti shalat Jum’at. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat apabila imam dan khotib seorang musafir lantaran ia tidak wajib melakukan shalat Jumat.

Pendapat pertama mengatakan shalat Jumat yang dipimpin oleh seorang musafir tidak sah, inilah pendapat dari ulama hambali, dengan alasan bahwa seorang musafir bukan termasuk orang yang berkewajiban shalat Jumat seperti wanita dan anak-anak. Dan orang yang tidak berkewajiban shalat Jumat tidak boleh memimpin shalat Jumat, adapun dalil tidak wajibnya seorang musafir melaksanakan shalat Jumat adalah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَعَلَيِهِ الجُمُعَةُ يَوْمُ الجُمُعَةِ إِلاَّ مَرِيْضًا أَوْ مُسَافِرًا أَوْ امْرَأَةً أَوْ صَبِيًّا أَوْ مَمْلُوْكًا

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, wajib baginya shalat Jumat pada hari Jumat, kecuali orang yang sakit, musafir, kaum wanita, anak-anak dan budak.” (HR. Daruquthni 2/3). Demikian juga riwayat al-Baihaqi yang semisal denganya secara ringkas.

Pendapat kedua mengatakan bahwa shalat Jumat tetap sah walaupun yang berkhutbah dan memimpin shalat Jumat adalah seorang musafir. Inilah pendapat dari Abu Hanifah, Malik bin Anas dan Asy-Syafi’I rahimahullah. Pendapat inilah yang lebih kuat dengan beberapa alasan, di antaranya:

  1. Seorang musafir, telah disepakati ulama bahwa shalat Jumatnya adalah sah. Dan kaidahnya bahwa seorang yang sah shalatnya untuk dirinya, maka sah juga untuk orang lain (menjadi imam).
  2. Seorang musafir memang tidak berkewajiban shalat Jumat, akan tetapi dia tidak berdosa melaksanakannya, bahkan dia diberi pahala atasnya.
  3. Tidak ada satupun dalil yang mengatakan bahwa musafir tidak boleh memimpin shalat Jumat. Namun, yang ada adalah musafir tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jumat. Karena tidak adanya dalil yang membatalkan shalat Jumat yang dipimpin seorang musafir, maka dikembalikan kepada hukum asal bahwa seseorang yang melaksankan shalat Jumat adalah sah, baik untuk dirinya atau untuk orang lain (Asy-Syamil fi Fiqhi al-Khatib wal Khutbah 114-116).

Demikian semoga bermanfaat.

Sumber : Ustadz Abu Rufaydah Endang Hermawan, Lc. MA

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here