Buya Agustiar Abu Ibrahim, Lc. MA – Menetapkan Sifat Istiwa’ bagi Allah di Atas Arasy

156

Buya Agustiar Abu Ibrahim, Lc. MA – Syarah Aqidah Wasithiyah – Menetapkan Sifat Istiwa’ bagi Allah di Atas Arasy

Salah satu poin penting dalam aqidah ahlus sunnah wal jamaah adalah meyakini bahwa Allah beristiwa’ di atas arasy. Secara bahasa, istiwa’ itu memiliki empat makna, yaitu :

  1. ‘ala (tinggi)
  2. Istiqarra (menetap)
  3. Sho’uda (naik)
  4. Irtafa’a (terangkat)

Di sebagian terjemahan Al-Quran sering disebutkan makna istiwa’ adalah bersemayam. Penerjemahan seperti ini perlu ditinjau ulang, karena makna bersemayam dalam kamus bahasa Indonesia adalah duduk, tinggal, berdiam diri. Sehingga terjemahan seperti ini tidak pas. Yang pas itu adalah berada atau menetap, bukan bersemayam. Allah berada di atas arasy.

Arasy adalah salah satu makhluk ciptaan Allah bentuknya seperti kubah yang sangat besar yang melingkupi langit dan bumi, dan merupakan atap dari seluruh makhluk. Arasy adalah makhluk Allah yang paling tinggi.

Berkembang pemikiran di tengah masyarakat kita bahwa Allah ada dimana-mana. Maka pemikiran yang seperti ini adalah bathil. Allah-lah yang menegaskan sendiri bahwa Allah berada di atas arasy, maka kewajiban kita adalah beriman bahwa Allah berada di atas arasy.

Banyak sekali dalil-dalil yang menegaskan bahwa Allah berada di atas arasy, yakni :

  1. Surat Al-A’raf : 54
  2. Surat Yunus : 3
  3. Surat Ar-Ra’du : 2
  4. Surat Thaha : 5
  5. Surat As-Sajadah : 4
  6. Surat Al-Hadid : 4

Ayat-ayat tersebut menggunakan lafadz :

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Allah berada di atas arasy”.

Ada sebagian orang yang mengatakan : “Allah tidak berada di atas arasy. Karena jika Allah berada di atas arasy, maka akan berkonsekwensi pada hal-hal berikut :

– Alah membutuhkan tempat
– Allah membutuhkan arasy
– Allah sama dengan makhluknya
– Allah memiliki jism (jasad).

Sehingga mereka memalingkan makna istiwa’ menjadi istawla yaitu “menguasai.” Maka pemikiran seperti ini adalah pemikiran bathil, yang hanya mengakal-akali karena tidak masuk ke dalam akal pemikiran mereka. Pemikiran seperti ini bertentangan dengan aqidah ahlussunnah wal jamaah.

Imam Malik mengatakan :

الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمانُ به واجِب، والسؤالُ عنه بدعة

“Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib. Mempertanyakannya adalah bid’ah.”

Istiwa’ Allah tentu tidak serupa dengan cara makhkuknya. Jangan dibayangkan bahwa Allah berada di atas arasy itu dalam keadaan duduk, berdiri, atau berbaring, atau bersila, atau semacamnya. Membayang-bayangkan seperti inilah yang membuat syubhat bagi akal, yang membuat akal menolak sifat istiwa’ bagi Allah. Ini salahnya kita manusia, latah.. suka membayangkan hal yang tidak perlu untuk dibayangkan. Padahal kita hanya dituntut untuk mengimani sebagaimana yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya. Allah beristiwa’ berada di atas arasy. Titik, tidak pakai koma.

Kamis, 22 Agustus 2019 | 21 Dzulhijjah 1440 H, Ba’da Maghrib s.d Selesai,
Masjid Al-Hakim, Jl. Gajah Mada Gg. BPKP II Nanggalo Padang

Posted by Media Sunnah .com on Thursday, August 22, 2019

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here