Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA – Syarat Qisash, Ketentuan dan Hikmahnya

341

Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA – Syarh Kitab Fiqih Al-Muyassar – BAB : Syarat Qisash, Ketentuan dan Hikmahnya

Wali dari yang terbunuh berhak melakukan qisash dengan 4 syarat :

  1. Orang yang membunuh itu adalah orang yang telah di bebani syariat (mukallaf), baligh dan berakal. Tidak ada qisash bagi anak-anak, orang gila, orang keterbelakangan mental, orang yang tidur. Berdasarkan sabda Nabi, “Pencatatan itu diangkat dari tiga golongan : dari orang yang tidur sampai ia bangun, dari anak-anak sampai ia baligh, dari orang gila sampai ia sembuh.” (HR. Abu Dawud, Shahih Albani)
  2. Orang yang terbunuh itu adalah orang yang terjaga darahnya, karena qisash disyariatkan untuk menjaga tertumpahnya darah. Orang yang dibolehkan untuk ditumpahkan darahnya, seperti : ketika perang membunuh kafir harbi, orang yang murtad sebelum bertaubat, pezina yang sudah menikah, maka jika seorang muslim yang menumpahkan darah mereka tidak berlaku qisash baginya.
  3. Kesetaraan derajat antara pembunuh dan yang terbunuh, maksudnya : sesama merdeka, sesama agama, sesama budak. Tidak ada qisash bagi orang muslim yang membunuh orang kafir karena beda agama.
  4. Tidak ada hubungan kelahiran/keturunan (pembunuh bukan orang tua dari yang terbunuh). Tidak ada qisash bagi ayah/ibu yang membunuh anaknya. Akan tetapi berlaku qisash jika si anak yang membunuh orang tuanya.

Hikmah ditegakkannya qisash :

  1. Sebagai rahmat bagi manusia
  2. Untuk menjaga darah manusia
  3. Hukuman atas sikap yang melampaui batas
  4. Untuk merasakan bagi pelaku apa yang dirasakan oleh korban
  5. Menghilangkan panasnya rasa dendam di hati keluarga korban
  6. Di dalam qisash terdapat kehidupan bagi manusia
  7. Untuk melestarikan umat manusia

Kapan qisash itu bisa dilaksanakan :

Apabila terpenuhi syarat berhaknya qisash yang 4 di atas tadi, maka qisash tidak dapat dieksekusi kecuali dengan tiga syarat, yaitu :

  1. Wali atau orang yang berhak menuntut qisash adalah orang yang mukallaf, baligh, berakal. Jika wali/orang yang berhak tadi adalah anak kecil atau gila, maka tidak bisa diwakilkan kepada yang lain atas namanya di dalam menuntut hak qisash. Maka pelaku pembunuhan dipenjara sampai si anak kecil menjadi baligh, atau yang gila menjadi sembuh.
  2. Kesepakatan para wali atau keluarga korban yang terbunuh untuk ditegakkannya qisash. Tidak boleh sebagian dari mereka ada yang menyelisihi kesepakatan itu. Maka ditunggu kedatangan yang tidak hadir, balighnya yang kecil, sembuhnya yang gila. Apabila sebagian dari keluarga memaafkan, maka gugurlah qisash tersebut meskipun hanya 1 orang yang memaafkan.
  3. Adanya jaminan tidak berpindahnya qisash selain kepada pelaku. Kalau seandainya mesti dilakukan qisas terhadap seorang wanita yang hamil, maka tidak boleh dilaksanakan qisas langsung sampai dia melahirkan anaknya, karena mengqisash wanita itu dalam keadaan hamil akan menyebabkan kematian pada janinnya. Kalau seandainya ada yang menjamin untuk menyusui anaknya, maka bisa ditegakkan qisash. Akan tetapi jika tidak ada maka dibiarkan sampai ia menyelesaikan masa menyusui anaknya.

Senin, 12 Agustus 2019 M | 11 Dzulhijjah 1440 H, 19.00 WIB (Ba’da Maghrib) s.d Selesai , Masjid Al-Hakim, Jl. Gajah Mada Gg. BPKP II Nanggalo, Kota Padang

🎥 *LIVE SURAU TV* Senin, 12 Agustus 2019 M | 11 Dzulhijjah 1440 H, 19.00 WIB (Ba'da Maghrib) s.d Selesai *Kajian Ilmiah bersama Buya Muhammad Elvi Syam, Lc, MA dalam pembahasan Syarh Kitab Fiqih Al-Muyassar*Langsung dari : Masjid Al-Hakim, Jl. Gajah Mada Gg. BPKP II Nanggalo, Kota Padang📺 Saksikan hanya di Surau TV Satelit Palapa D, Frek : 4014, Symbol Rate : 7200, Polaritas : H

Posted by Surau TV on Monday, August 12, 2019

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here